Wednesday, 25 September 2019. 7:34 am

Potret Perjuangan Mahasiswa Di Dinding Sejarah Bangsa Ini

Imam Wahyudi

JARRAKPOS – Membaca berita dan atau mendengar kabar tentang aksi mahasiswa yang berujung ricuh hingga tindakan represif aparat polisi, sungguh menyayat hati. Betapa tidak, puluhan mahasiswa harus mendapatkan perawatan medis bahkan dirujuk ke rumah sakit. Wajah bersimbah darah dan luka memar di sekujur tubuh akibat pukulan dan tendangan brutal oleh oknum aparat.

Seperti diberitakan, aksi mahasiswa berlangsung serentak di berbagai kota di Indonesia. Antara lain Banda Aceh, Medan, Batam, Palembang, Serang, Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, Semarang, Yogya, Solo, Malang, Surabaya, Jember, Denpasar, dan Makasar. Saya tak hendak menyoal tuntutan mahasiswa yang tentu menyuarakan aspirasi rakyat, pun perkara menggugat rezim. Namun lebih pada tindakan represif aparat. Tak seharusnya aksi yang dilakukan mahasiswa berbuah luka di tubuh. Tak sekadar lecet tangan, tapi memar hingga darah mengucur di wajah dan kepala. Bukan semata karena status mahasiswa, tapi hakikatnya anak-anak kita, adik-adik kita yang tengah unjuk peduli dan berekspresi.

Bagai melaksanakan perintah atasan, aparat rela pertontonkan tindakan represif yang tak kenal adab dan prikemanusiaan. Mereka lupa, bahwa sejatinya para mahasiswa itu merupakan generasi penerus yang kelak sangat mungkin di antaranya bakal jadi pemimpin bangsa. Mereka pun sertamerta lupa akan sejarah perjuangan mahasiswa yang nyata membuat tapak perjalanan berbangsa dan bernegara.

Kami adalah mahasiswa pada masa lalu, tak lepas sebagai aktivis pergerakan. Hari ini, anak kami yang menyandang predikat mahasiswa. Juga anda, tak kecuali aparat. Kekuasaan seolah tanpa syarat yang kadung mengerdilkan medan pergerakan mahasiswa untuk aktualisasi diri dan menjemput masa depannya.

Sejarah mencatat dengan tinta emas, pergerakan mahasiswa sebagai pengakuan peran sentral dalam perjalanan perjuangan bangsa ini. Berlaku universal, pergerakan mahasiswa di mana pun senantiasa berperan oposisi dan siap mengoreksi kekuasaan setiap rezim pemerintahan. Angkatan demi angkatan pergerakan mahasiswa muncul silih berganti.

  • 1908, Perkumpulan Boedi Oetomo yg diprakarsai pemuda, pelajar dan mahasiswa. Dilanjutkan Perhimpunan Indonesia sebagai episode sejarah yang ditandai munculnya angkatan pembaruan dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai aktor terdepan;
  • 1928, Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda yang kembali ke tanah air membentuk Kelompok Studi Indonesia berkolaborasi Kelompok Studi Umum oleh para nasionalis dan mahasiswa di Bandung yang kelak menjadi ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928;
  • 1945, generasi kemerdekaan Indonesia yang dimotori Soekarno;
  • 1966, disebut Angkatan ’66 lewat gerakan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPI (pelajar) dan KAPPI (pemuda pelajar) yang mengakhiri kekuasaan orde lama;
  • 1974, koreksi dan ledakan pertama yang dilakukan mahasiswa terhadap rezim orde baru dengan pesan sentral “Mahasiswa Menggugat”. Ditandai tragedi Malari (Malapetaka 15 Januari 1974);
  • 1977/78, Perjuangan Mahasiswa dengan tuntutan “Turunkan Soeharto” dan “Hapus KKN!” yang berakibat aksi “pembungkaman” dengan pendudukan kampus (oleh tentara) dan pembekuan dewan mahasiswa (DM) di semua perguruan tinggi:
  • 1998, gerakan mahasiswa menuntut reformasi pemerintahan sebagai puncak perjuangan menumbangkan rezim orde baru yang telah berkuasa 32 tahun.

Ayo, mahasiswa. Selamat berjuang. Pacu semangat. Potret perjuanganmu senantiasa terpampang di dinding sejarah bangsa ini. Majulah dan menang

Eks Aktivis Perjuangan Mahasiswa 1977/78 di Bandung

Oleh Imam Wahyudi

Jarrakposbangkabelitung.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *