Monday, 30 September 2019. 4:15 am

Catatan Natulis Pigai Untuk Presiden Jokowi : Mengapa Orang Papua Marah Ke Pendatang

Doc.Net

Tulisan ini saya tulis berdasarkan kenyataan yang membahas tentang orang Papua. Saya telah melihat langsung, memutar, mendengarkan dan merekam di seluruh isinya cek langsung ke rakyat Papua juga cerita-cerita dengan tidak kurang dari 8 Bupati / mantan Bupati dan Pejabat masih aktif. Saya menulis ini menyetujui saya sebagai penyelamat profesional yang tidak pernah melaporkan tidak kurang dari 15 ribu kasus di Indonesia. Tulisan ini menyumbang untuk perbaikan dan perbaikan bersama (bonum commune).

58 Tahun hidup dalam nestapa, menentang ribuan orang Papua dibantai didasari atas kebencian rasisme terhadap bangsa Papua yang berkulit hitam dan rambut kriting.

Kata-kata yang mengandung kekerasan verbal dengan menyebut monyet, kera, gorila, bahkan Kete, telah lama diterima orang Papua. Pelakunya tidak hanya rakyat sipil tetapi juga dilakukan oleh aparat negara baik di Papua maupun di luar Papua. Makin lama pendatang bertindak, rasis dan bertindak dan dibalas dengan sikap segregatif rakyat Papua sebagai verifikasi sakit hati.

Lebih ironis lagi Aparat Intelijen, TNI dan Polri menjadikan kaum pendatang sebagai mitra, sebagai informan bahkan pasukan milisia. Secara sengaja atau tidak Aparat menggiring Pendatang orang sipil tidak berdosa yang mengadu nasib di tanah Papua sebagai kelompok milisia. Apakah pemicu kebencian akut rakyat Papua terhadap pendatang jadi mengapa hari ini bangsa Papua dicaci maki, dicemooh, dimusuhi ?. Mengapa tidak marah kepada aparat negara yang menggiring pendatang rakyat tidak mau bermain dalam bara api di Papua yang memang wilayah konflik.

Pernahkah kita tahu itu di Wamena, pusat kota dan di daerah lain HIV / AIDS berkembang cepat memenangkan kepunahan bangsa Papua Melanesia, bukan karena wanita-wanita Melayu Penjajah seks komersial menjual diri di “lokalisasi” karena memang tidak ada lokalisasi, karena mereka bikin gubuk2 kecil di kios-kios dan rumah makan pendatang, di rumah makan “mas mau makan apa, daging mentah atau masak” Itulah ilustrasinya jika orang asli Papua makan.

Ketika terjadi aksi protes oleh orang Papua di pusat-pusat kota, pihak berwenang sering kali intai orang Papua dari rumah- rumah pendatang atau kios-kios dan rumah makan pendatang, mencoba memberondong peluru dari tempat-tempat kearah orang Papua. Sudah terlalu banyak orang Papua mati karena pola ini. Cara ini disaksikan oleh orang Papua, memang Papua ini kota- kota kecil semua terjadi kasat mata, terang benderang.

Menyebarkan lisan menyebar orang Papua dan modus-mode ini didistribusikan luas. Sekali lagi bukan pendatang tetapi pendatang digiring aparat, mau tidak mau “manut” diminta di wilayah konflik.

Namun salah satu kelakuan yang tidak dipertanyakan orang-orang pendatang adalah dikala konflik atau cek kok dengan orang Papua, para pendatang selalu meminta atau berlindung dibalik senjata laras, mereka tidak mengikat pagar hukum, saya tidak pernah menemukan orang pendatang melapor atau mencari pertimbangan di pengadilan menentang orang Papua secara adil.

Judi Togel dimana- dimana di kota kota, jual minuman keras pemeliharaan pendatang dan dibeckingi aparat.

Apakah kita pernah tahu tentang daerah penambangan pembohong dikuasai pendatang, dibekingi aparat, jual minuman keras, narkotika bahkan prostitusi seperti di Degeuwo, tembagapura, daerah mamberamo dll.

Aparat membeckingi orang luar Papua untuk menguasai 3 sumber utama milik orang Papua adalah pertama, merampas sumber daya alam dengan melakukan penambangan pembohong (penambangan ilegal), mengambil ikan pembohong dan mengambil kayu ilegal. Kedua, merampas sumber daya ekonomi orang Papua di seluruh pusat-kota, distribusi barang dan jasa dikuasai pendatang, sumber-sumber ekonomi dikuasai. Kios, pasar bahkan angkot dan ojek dikuasai pendatang. Ketiga, merampas hak politik rakyat Papua, perampasan hari ini sudah merambah dunia birokrasi dan politik. Pendatang terlalu mahal, mau jadi Bupati, Wakil, DPR dengan cara sogok yang, hambur uang di sini, hambur uang di sana Pemilu hari ini diminta dikuasai pendatang. Ada kabupaten yang anggota DPRnya bebas 100% pendatang, ada kabupaten yang satu keluarga 7 orang DPRD.
Kalau 3 sumber kehidupan utama orang Papua dikuasai, maka apakah ada harapan hidup bagi orang Papua? Masa Depan Tentu saja sudah suram.

Apakah tahu itu Kepala Daerah dan Pejabat di Papua tersandera dan disandera oleh Kontraktor dan anak buahnya yang rata-rata pendatang. Kontraktor menggunakan aparat negara memuluskan proyek, bahkan pencairan terlebih dahulu sebelum proyek berjalan. Karena tekanan dan teror.

Bupati hampir dipastikan Disandera Kepala Dinas yang anggarannya besar seperti PU dan Finansial, kerja sama dengan Polisi dan Jaksa teror Kepala Daerah dengan bukti penyalagunaan seakan akan Bupati bermasalah, ditunjukaan surat pengaduan, SPDP, kepala daerah, serta hasil konspirasi merampok uang negara bermilyar -milyar.

Di seluruh Papua, Auditor Badan Pemeriksa Keuangan datang atau mendatangi pejabat lokal untuk menyogok agar BPK mengeluarkan surat yang disebut “telah selesai melakukan pemaksaan” sekali lagi surat itu bernama “Selesa telah menerima” padahal BPK tidak pernah memeriksa dan tidak pernah ada sebelumnya. Semua orang Papua ini heran mengapa semua orang di Papua setiap tahun dapat menggunakan WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) merampok uang rakyat dalam jumlah yang besar tanpa pembangunan fisik. Aktor Intelektualnya (gurunya) itu adalah pejabat non Papua.

Kalau boleh saya jujur ​​“apa adanya”, maka Rumah Sakit di Papua sudah dicap sebagai “tempat kematian” bukan tempat persemaian manusia, bukan tempat kehidupan, termasuk rumah sakit pemerintah termasuk kepoisian, sekarang rakyat Papua sudah mulai curiga . Orang Papua sangat takut ke rumah sakit, mereka Lebih memilih pengobatan alami. Telah lama rumah sakit dicurigai orang Papua sebagai tempat pengendali Papua (etnic cleansing), rata-rata ibu muda yang pernah masuk rumah sakit saat hamil atau melahirkan selanjutnya bisa melahirkan, ada juga ibu yang disuntik saat selesai kontraksi saat melahirkan) begitu tanpa sadar meng ”iya” kan agar disuntik kesuburan.

Benar-benar rata-rata tampilan fisik bangunan dan di dalam rumah sangat “buluk” bahkan waktu saya dan Manajer Nasution mantan Komnas HAM sekarang di LPSK melihat langsung air di rumah sakit dok 2, RS satu nomor 1 se tanah Papua mati pembayaran. Padahal udara itu vital, udara kehidupan tanpa manusia pasti mati, di rumah sakit. Memang di dunia ini tenaga medis dan para medis itu istimewa / mereka wakil Tuhan di dunia tetapi untuk Papua tentu saja berbeda.

Jangankan rumah sakit, orang Papua hari ini sudah kehilangan respek kepada Romo, pendeta lebih suka Kiai, sudah lama suara kenabian hilang di tanah Papua Melanesia. Gereja menjadi alat kekuasaan, menjadi alat milik klik-klik bersejarah. Hambah Tuhan yang mengubah orang Papua mati mendadak, di daerah pedalaman berhadapan dengan laras senjata.

Tidak ada hukum negara di Papua, tidak ada keadilan Dihadapan hukum untuk orang Papua. Keadilan hanya berlaku untuk mereka yang pendatang kecuali orang Papua membayar “sogok” hakim. Orang Papua yang suka jadi muda dan cepat bisa memutuskan pengadilan dan keputusan hanya dalam hitungan hari, sementara orang Papua yang kecil dan begitu sulitnya mendapat keadilan. Hampir 58 tahun pengadilan menghukum orang non Papua atau aparat kepolisian (belum pernah saya lihat dan baca dokumen) anggota polisi yang dipenjara karena menyiksa dan membunuh di luar pengadilan (Pembunuhan ekstra yudisial) dan selalu mendapat sorotan dunia.

Semua rintihan, ratapan, kesedihan orang Papua terbungkam di kalbu rakyat Papua. Rakyat Papua tidak memiliki ruang ekspresi, media masa dibungkam menjadi alat propaganda penguasa dan pendatang. Organisasi masyarakat sipil dan partai politik sebagai instrumen artikulator kepentingan rakyat Papua terbungkam, yaitu kebebasan kemerdekaan terbatas. Apa yang terjadi hari ini adalah puncak gunung yang membeku begitu lama. Itu yang kurang di pahami negara dan rakyat Indonesia.

Bangsa (Tokoh2 Nasional Lintas Suku dan Agama) sepatutnya meminta negara untuk mencari solusi atas masalah Papua bermartabat dan lebih progresif, bukan memilnta represi militer di Papua. Jika meminta operasi militer, maka tidak perlu meminta karena sudah 58 tahun operasi militer telah berlangsung, rakyat Papua saban hari hidup dalam tantangan di tanah tumpa darah mereka adalah tanah Papua milik bangsa Melanesia.

Saya harus jujur ​​sampaikan kami ini dua ras yang berbeda yaitu Ras Negro Melanesia dan Ras Mongoloid Melayu. Ibarat Minyak dan Air, tidak akan pernah bisa bersatu kecuali jika Rasisme, Papua Phobia dan Diskriminasi dihilangkan dari negara ini dan itu terasa tidak mungkin karena mengubah di negara ini sudah terlalu akut.

Jarrakposbangkabelitung/llefendi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *